So, kali ini aku bersama temanku berniat mencari udara segar alias refreshing ke Ancol. Lama tinggal di Jakarta selama merantau tapi ngga pernah mengunjungi Ancol membuatku lupa akan suasana Ancol yang waktu dulu kecil bersama keluarga pernah kesana. Haha...ya sedikit bernostalgia masa kecil dulu jadinya. Tapi sepertinya Ancol banyak perubahan disana-sini daripada dulu, laiya wong sudah 20 tahun yang lalu perbedaannya.
Kita berangkat dari halte slipi-kemanggisan menuju halte Grogol. Dari grogol kita pindah koridor menuju ke arah Harmoni, beruntung kita mendapat bus TJ yang langsung ke arah halte Senen, jadi kita tidak perlu turun ke halte Harmoni menunggu bus yang menuju ke halte Senen. Turun di Senen kita pindah koridor lagi menuju ke arah Ancol. Bus arah Ancol tepat berhenti di pintu masuk pengunjung Ancol, setelah membayar HTM 25000 rupiah per orang kita masuk ke kawasan Ancol.
Beneran aku lupa dengan keadaan Ancol waktu dulu kecil, bener-bener banyak perubahan disana-sini. Dengan sok tahu kita mencoba mengitari Ancol dengan berjalan kaki saja sambil aku menyiapkan sketch book dan drawing pen untuk berburu sketsa di perjalanan. Kita berjalan ke arah Pantai Marina yang merupakan deretan pemukiman mewah di pinggir kanal menuju ke laut. Banyak kapal cepat yang berjejer di sepanjang dermaga kanalnya, aku mencoba untuk mensketsa keadaan disana.

Kita berangkat dari halte slipi-kemanggisan menuju halte Grogol. Dari grogol kita pindah koridor menuju ke arah Harmoni, beruntung kita mendapat bus TJ yang langsung ke arah halte Senen, jadi kita tidak perlu turun ke halte Harmoni menunggu bus yang menuju ke halte Senen. Turun di Senen kita pindah koridor lagi menuju ke arah Ancol. Bus arah Ancol tepat berhenti di pintu masuk pengunjung Ancol, setelah membayar HTM 25000 rupiah per orang kita masuk ke kawasan Ancol.
Beneran aku lupa dengan keadaan Ancol waktu dulu kecil, bener-bener banyak perubahan disana-sini. Dengan sok tahu kita mencoba mengitari Ancol dengan berjalan kaki saja sambil aku menyiapkan sketch book dan drawing pen untuk berburu sketsa di perjalanan. Kita berjalan ke arah Pantai Marina yang merupakan deretan pemukiman mewah di pinggir kanal menuju ke laut. Banyak kapal cepat yang berjejer di sepanjang dermaga kanalnya, aku mencoba untuk mensketsa keadaan disana.
Kapal cepat bersandar di dermaga kanal Pantai Marina
Dari pantai marina kita melanjutkan perjalanan ke arah timur Ancol. Cuaca cukup panas saat itu tapi kita tetap nekat berjalan di sepanjang bibir pantai Ancol, padahal kita tahu ada transportasi bus wara-wiri yang bisa mengantar kita keliling kawasan Ancol. Kita berjalan perlahan menuju kawasan tengah ancol yang cukup ramai pengunjung, Di seberangnya ada Hotel Putri Duyung yang memiliki bangunan eksotik mirip rumah nanas Spongebob
Deretan bangunan kamar hotel yang mirip rumah Spongebob :p
Hari sudah siang dan kita merasa lapar. Cuaca sempat hujan deras, namun untungnya tidak lama dan kita segera mencari tempat makan untuk sekedar mengisi perut yang lapar. Jalan jauh cukup membuat tenaga kita terkuras dan perut yang kelaparan. Sambil menunggu pesanan datang saya mencoba mensketsa cepat seorang anak yang tengah makan bersama keluarganya.
Seorang gadis kecil yang sedang makan
Habis makan, lalu kita memutuskan untuk melanjutkan mengitari Ancol sampai ujung terakhir, namun karena sudah bosan berjalan dan terlalu lelah kita mencoba untuk naik bus wara-wiri. Bus wara-wiri mengantar kita sampai ke pantai Ancol beach city, lalu berputar ke arah Eco Park. Kita turun disitu dan masuk ke dalam Eco Park. Eco Park merupakan wahana taman tempat konservasi lingkungan.
Dari Eco Park itu kita memutuskan untuk pulang karena hari sudah beranjak malam. Takut karena jalur Bus TJ yang ke arah pulang akan habis jadwalnya. Di dalam bus aku sempatkan untuk mensketsa interior di dalam bus. Merasa tertantang untuk mensketsa di dalam bus yang bergoyang-goyang cukup kencang.

Interior Bus Transjakarta
Owraik, demikian perjalanan kali dari aku, sayonara, sampai berjumpa lagi!








